D_uNsPoKeN

Sunday, May 21, 2006


Beringsut mentari sembunyi lalu pergi, senja hari ini...
Esok pagi kan kutemui ia lagi, menitip doa padanya tuk disampaikan kepada langit yang jelas lebih dekat padanya ketimbang padaku
Moga di saat berpisah kami tuk yang kesekian kali saat senja menghampar pekat perlahan esok, ada kutemui buah rinduku lagi...
Moga kutemui bening coklat bola mata indah itu lagi, meski sesaat saja... Dan mentari... Maaf n_" , jika bening coklat mata itu hadir, aku jadi sedikit tidak peduli dengan kepergianmu

Dan bila esok senja tiba bersama dirinya
Bila... Ah! Itu sudah cukup bagiku, setidaknya untuk kali ini
Aku tak kan memaksa, hanya Dia yang berhak memutuskan apa yang akan terjadi nanti
Dan hanya doa²ku saja sesederhana bihun sambal kacang yang pernah ia suapkan padaku di atas kereta satu waktu itu
Moga pemilik bening coklat bola mata itu mampu merasakan perasaanku dengan sebenarnya
Ah! Kurasa dia sudah tahu. Kurasa dia tak sebodoh itu...

Bila esok senja tiba bersama dirinya, dan itu sudah cukup bagiku...

ILUSTRASI RUANG DI HATIKU, DAN KAMU


Ilustrasi ruang hatiku dan kehadiranmu saat ini…
Seperti Stasiun Beos, Kota, dan kedatangan KRL ekonomi
Meski banyak kereta lain yang singgah, namun engkau lah yang paling lama bertahan di sini…

Dan di sini, di ruang hatiku, selalu dan akan selalu ada ruang untukmu
Sekalipun kutahu kau akan pergi, tapi kutahu kau akan selalu kembali untukku.

Dan jika mungkin untukku, jua dengan seizinmu
Sesungguhnya ilustrasi Stasiun Gambir dan kereta luar kota lah yang kuharapkan terjadi di antara kita
Menempatkan ruang khusus hanya untukmu, hingga yang lain pun tak dapat singgah di sini, hanya sekedar lalu

Lebih dari itu… pada satu waktu yang pernah terjadi atas diriku…
Bahkan akan kurelakan mengulangnya jika itu kehendakmu…
Menjadikan ruang di hatiku seperti “dipo” untuk hadirmu
Menjaga dan merawatmu di sini dengan segala ketulusanku
Walau sesudahnya kutahu kau hanya akan pergi… dan tak pasti kembali lagi…

Jakarta – Depok, 19 Mei 2006
Pada rindu yang tak seharusnya untukku

Sunday, May 14, 2006

DI ATAS REL, semenjak malam menghampiri




Segenap jiwa terbawa senandung gerak desak roda² kereta
Menjamah bayangmu senantiasa

Bahkan dalam mimpi
Celotehmu, tawamu, jua kehinaanku di matamu setia menemani
Menyambung cerita², kebersamaan sesaat, yang tak pernah cukup puaskan kerinduan di hati

Kurengkuh alam surgawi dalam kesederhanaanmu saat kita bersisian
Dipeluk damai di gaung doa² semoga tak pernah berakhir...

Meski layaknya pada doa²ku kesudahan
Galau jelas meradang, cemas masih saja mengerang…
Adakah doa² ini kan sama berakhir tersia?

Aku tidak akan memaksa
Cinta sewajarnya tak berpihak
Cinta sewajarnya saling berbalas

Aku tidak akan mendesak
Sekalipun kamar hati mulai terasa sesak

Wajahmu, gerakmu, kulitmu... bahkan dengan mencibirmu pun keseluruhanmu adalah kesejukan angin senja yang hembus melesak melalui jendela pada gerbong tempat kita biasa bercengkrama...

Aku bahkan tak tahu nama lengkapmu, mencoba tak peduli tak jua tanyakan segala perihal tentangmu...
Tapi aku rindu, mengalahkan ketidakpedulianku, aku... tetap saja... rindu kamu...

Jakarta – Depok, 12 Mei 2006

♥♥♥ Al~dhie ♥♥♥
Teruntuk ketidakpedulian yang tak bisa kupungkiri kehadirannya… Rindu…

Monday, May 01, 2006

DI ATAS JANJI PERNAH TERUCAP

Janji tak hendak kuingkari, namun itu yang kini terjadi
Maaf, kupikir kebohongan tak kan melukai
Menjaga perasaanmu sekalipun kita tak lagi sebagai sepasang kekasih
Malam itu… Dan cemburumu masih saja berapi²
Menyentak kepalsuanku sekalipun pada jujurku dahulu kau kerap meragu

Di atas keraguanmu yang berkata pasrah tentang kita yang mungkin takkan pernah menyatu…
Di atas janji yang pernah kuucap satu masa dulu…
Maafku teruntuk dirimu, persembahan surga yang bukan untukku

Dan inilah aku adanya, penikmat kesendirian kala luka tak mampu lagi kutolak kehadirannya…
Saat kau izinkan aku tuk mencari cinta sejatiku, kesejatianku…
Percayalah satu hal, belum kutemukan satu pun… Bahkan jika aku kembali padamu

Aku masih sayang kamu…
Angin dingin malam itu, kegamanganku, sama meluka jua padaku. Lebih dari yang kau tahu… Dan yang kau rasakan

Depok, 30 April 2006
Kelok Pekat di Jalan Raya Bogor

NOT MUCH TO SAY

Too much love will kill you… Some people say…
Mungkin…
Tapi satu hal yang kupelajari, dan semoga aku mampu menjalani…
Tak kan kuberikan hati dan cintaku sepenuhnya pada seseorang sebesar apapun rasa yang tercipta demi mengenalnya.
Satu hal yang pasti, aku (akan) menjadi kosong saat (apabila) ia pergi dan membawa sirna romansa yang telah kubentuk dengan segenap jiwa.
Akan kusisakan sedikit lagi untukku saja agar aku tetap sadar, bahwa sekalipun dengan kepergiannya, aku masih memiliki diriku sendiri yang juga butuh tuk kujaga dan kurawat…
Dan dalam hatiku, lahan yang masih patut tuk kutaburi benih² kasih dan sayang. Memperluasnya lagi dengan puing² asa pernah rapuh yang kubangun menjadi pagar dan istana kembali.
Menghiasnya lagi dengan helai² cita pernah terurai yang kutenun menjadi benang dan kain kembali.
Dan semoga jika benar waktunya, adalah miliknya jua tuk ia menuai kesemuanya.


Jakarta, 28 April 2006
Kantor Kecil yang Sunyi

WAKTU YANG TERSISA DI SINI

Kurangkai huruf hingga kata menjadi kalimat…
Menarikan jemari di atas papan ketik komputer milik kantorku…
Aku mungkin tak kan pernah menjadi penulis terkenal, tapi batin semoga terpuaskan demi seribu rasa yang datang silih berganti.
Aku mungkin tak punya nama besar, titel yang dapat dibanggakan, atau pun kerabat dan teman dekat dengan status sosial kelas atas yang dapat kujadikan jaminan masa depan.
Tapi aku punya pembaca seperti dirimu, dan aku masih punya teman yang masih sudi berbagi suka dan duka… Maaf, doa dan terimakasihku bertautan untuk kalian dan mereka yang ikhlas mengenalku.
Ambisiku, obsesiku, cinta sejoliku… Mungkin sangat lah sedikit yang pernah, tengah dan akan kujalani. Bahkan terkadang perih.
Tapi aku punya daya juang, aku punya kemampuan bertahan yang bagiku sendiri merupakan keajaiban.
Bagiku;
Airmata adalah pelembut hati yang mampu menyeimbangkan emosi dalam diri.
Senyum adalah penenang jiwa yang mampu menyejukan panasnya amarah.
Tak perlu benar aku berteriak bingar atau tertawa keras² demi mengungkap diri.
Sesungguhnya hati mampu berbicara lebih baik daripada seribu bahasa, dialek, maupun kultur budaya.
Penolakan biar kuanggap sebagai koreksi, kritik dan saran untukku.
Caci maki biar kuanggap sebagai kokok ayam pagi yang membangunkanku dari mimpi.
Maaf, doa dan terimakasihku bertautan untuk kalian dan mereka yang ikhlas menyadarkanku...


Jakarta, 28 April 2006
Kantor Kecil yang Pengap