Aku tengah berpetualang di Negeri Kemunafikan
Mengingkari tapi tak kuasa menghindari
(Bukan tentang ini saja, melainkan tentang banyak hal dalam kehidupanku)
Ya Allah, adakah aku tengah mengikuti jalan-Mu?
Atau aku hanya mencari jalan selamat dari adzab dunia seharusnya untukku?
(Dan berharap adzab akhirat sebagai penebusnya?)
Nalarku, apakah ia sanggup menemukan jalan terbaik tanpa tuntunan-Mu?
(Jelas tak mungkin)
Hatiku, sanggupkah ia penuh menerima meski tak sepenuhnya mencinta?
(Aku ragu)
Bahtera belum lagi hendak kupersiapkan
Kini tiba tiang, papan, layar dan tambang di depan mata.
Harus kurakit, atau (mungkin) aku akan kehilangan kesempatan berlayar ke negri sebrang
Tapi bukan bersama dirinya kehendak hati mengarungi samudra luas
Meskipun saat ini hanya darinya kesempatan itu ada
Ya Allah, Engkau Maha Tahu mana yang terbaik
Akankah aku membawanya tenggelam bersamaku?
Ataukah ia yang akan menyelamatkanku dari badai lautan nanti kiranya?
(Sekoci itu milik siapa?)
Andai sanggup kubuka pintu hati lebar-lebar
Menutup mata sekaligus enyahkan mimpi tentang seseorang yang belum lagi atau bahkan mungkin tak kan pernah kutemui
(Seseorang yang sanggup menggetarkan hati demi merasakan kehadirannya saja)
(Dan kepada dirinya)
Bukan aku tak mau mengungkap siapa dan bagaimana aku
Hanya memang hasrat tak cukup peduli apakah ia mau menerima atau tidak atas keadaanku yang sebenarnya
(Aku masih saja enggan berbagi)
Jikalau pun aku terungkap
Aku takut hal itu akan menjadi cacat jua bagi kedua orangtuaku di matanya
Belum lagi hukuman atas dosa-dosaku yang kutakuti akan menjadi beban mereka dalam menjalani sisa usia
Ya Allah, aku tengah tenggelam meski belum lagi menyentuh lautan
Tenggelam dalam keegoisan, ketakutan sekaligus kesombonganku sendiri…
Atau aku sesungguhnya hanya membutuhkan pengakuan bahwa aku bisa lebih baik dari mereka-mereka yang selama ini jadi kebanggaan?
Sebab setulus dan sebaik apapun yang pernah kupersembahkan
Tak cukup jua pengakuan itu kudapatkan
(Yang kudapati justru kenyataan bahwasannya)
Aku gagal
Aku celaka
Aku rusak
Adzab ! Aku tercela
Penyesalan dan kekecewaan menyeretku ke lembah terdalam
Membelenggu sepasang kaki dan kedua tanganku dari meraih jannah-Mu, ya Allah
Sesungguhnya masih kucari
Lebih lagi masih kuimpikan
Tentang aku; buah cita; cinta; dan citra selama ini kuidamkan dan kuperjuangkan
Atau aku tak cukup berusaha
Aku tak cukup berkorban
Penyesalan dan kekecewaan melemahkan sendi-sendi dan syarafku
Hingga warna harap pupus, bias dengan warna keraguan
Aku bangkit, tapi tak sanggup berlari cepat mengejar keinginanku
Aku… Dibatasi… Ketiadaanku
Jakarta. 10 Desember 2007
Menjelang pernikahan tak pasti kuingini