D_uNsPoKeN

Saturday, December 15, 2007

Timpang, seok menggerus bumi
Alur celung satu garis yang meliuk-liuk mendampingi jejak satu tapak di sisinya
Tapi ketimpangan itu belum juga terhenti, meski sejenak

Waktu dan Cita

Waktu terus saja berjalan
Cita masih saja mengikuti-mengejar

Satu saja di antara keduanya berhenti
Maka akan terhenti kedua-duanya
Sebab itu mati

Waktu berjalan cepat dan terus berjalan
Menyeret Cita barangkali lelah berkali gagal

Satu raga manusia bertopang pada kedua langkahnya
Cita yang memberikan titik tujuan
Waktu yang menentukan arah jalan

Maaf bila Cita pernah lalai dan melewatkan kesempatan
Maaf bila Waktu mungkin tergesa hingga kadang lepas pandang lupa mengingatkan

Satu raga manusia yang memiliki hati
Pernah merasa terbengkalai dan dikecewakan
Satu raga manusia yang memiliki fikir
Belum lagi mampu menjadikan topangannya selaras menegakkan

Satu raga manusia belum lagi mati…

Kantor, dan awal bangkrutnya sebuah perusahaan

Jakarta Barat 11140, 14 Desember 2007 menjelang shalat Jum’at.

Carik dan tinta merah
Menjamah lembaran² baru kehidupanku
Kusam bukan berarti aku tak pernah membukanya
Ada yang menahanku tuk memulai catatan ini
Terdiam cukup lama hingga debu selimut angin sampir lekat

Carik dan tinta merah
Seseorang atau sesuatu menggoreskannya untukku
Di atas lembaran² baru kehidupanku
Seseorang atau sesuatu yang merasa berhak atas diriku
Lalu merasa punya hak juga menentukan jalan hidupku

INI BUKAN AKU!!!
Apakah ini semestinya aku?
Aku marah, ronta tapi tak juga menyobek lembaran² ternoda
Aku sedikit menikmati, juga sedikit berharap ada kebaikan berarti di situ
Aku pasrah…

Tapi hati ini tak puas lalu saja
Aku geram

Ada yang menahanku tuk memulai catatanku sendiri.

Life Goes On, for Time Won’t Wait
Jakarta, 11 Desember 2007

Aku tengah berpetualang di Negeri Kemunafikan

Mengingkari tapi tak kuasa menghindari

(Bukan tentang ini saja, melainkan tentang banyak hal dalam kehidupanku)

Ya Allah, adakah aku tengah mengikuti jalan-Mu?

Atau aku hanya mencari jalan selamat dari adzab dunia seharusnya untukku?

(Dan berharap adzab akhirat sebagai penebusnya?)

Nalarku, apakah ia sanggup menemukan jalan terbaik tanpa tuntunan-Mu?

(Jelas tak mungkin)

Hatiku, sanggupkah ia penuh menerima meski tak sepenuhnya mencinta?

(Aku ragu)

Bahtera belum lagi hendak kupersiapkan

Kini tiba tiang, papan, layar dan tambang di depan mata.

Harus kurakit, atau (mungkin) aku akan kehilangan kesempatan berlayar ke negri sebrang

Tapi bukan bersama dirinya kehendak hati mengarungi samudra luas

Meskipun saat ini hanya darinya kesempatan itu ada

Ya Allah, Engkau Maha Tahu mana yang terbaik

Akankah aku membawanya tenggelam bersamaku?

Ataukah ia yang akan menyelamatkanku dari badai lautan nanti kiranya?

(Sekoci itu milik siapa?)

Andai sanggup kubuka pintu hati lebar-lebar

Menutup mata sekaligus enyahkan mimpi tentang seseorang yang belum lagi atau bahkan mungkin tak kan pernah kutemui

(Seseorang yang sanggup menggetarkan hati demi merasakan kehadirannya saja)

(Dan kepada dirinya)

Bukan aku tak mau mengungkap siapa dan bagaimana aku

Hanya memang hasrat tak cukup peduli apakah ia mau menerima atau tidak atas keadaanku yang sebenarnya

(Aku masih saja enggan berbagi)

Jikalau pun aku terungkap

Aku takut hal itu akan menjadi cacat jua bagi kedua orangtuaku di matanya

Belum lagi hukuman atas dosa-dosaku yang kutakuti akan menjadi beban mereka dalam menjalani sisa usia


Ya Allah, aku tengah tenggelam meski belum lagi menyentuh lautan

Tenggelam dalam keegoisan, ketakutan sekaligus kesombonganku sendiri…

Atau aku sesungguhnya hanya membutuhkan pengakuan bahwa aku bisa lebih baik dari mereka-mereka yang selama ini jadi kebanggaan?

Sebab setulus dan sebaik apapun yang pernah kupersembahkan

Tak cukup jua pengakuan itu kudapatkan

(Yang kudapati justru kenyataan bahwasannya)

Aku gagal

Aku celaka

Aku rusak

Adzab ! Aku tercela

Penyesalan dan kekecewaan menyeretku ke lembah terdalam

Membelenggu sepasang kaki dan kedua tanganku dari meraih jannah-Mu, ya Allah

Sesungguhnya masih kucari

Lebih lagi masih kuimpikan

Tentang aku; buah cita; cinta; dan citra selama ini kuidamkan dan kuperjuangkan

Atau aku tak cukup berusaha

Aku tak cukup berkorban

Penyesalan dan kekecewaan melemahkan sendi-sendi dan syarafku

Hingga warna harap pupus, bias dengan warna keraguan

Aku bangkit, tapi tak sanggup berlari cepat mengejar keinginanku

Aku… Dibatasi… Ketiadaanku

Jakarta. 10 Desember 2007

Menjelang pernikahan tak pasti kuingini

Saturday, December 01, 2007

Sirahku mumed, Rek


Look, I'm going to make it quite short and simple. I'm going to get married with someone I'm not sure I want to live with. I met this girl on purpose one day. My father arranged the date. He want me to get married a.s.a.p. Funny thing is, I found nothing in her for me to say "no". As so I hope she would've found (I'm sure she did) something in me for her to reject my being.
Tapi tidak. Dia tidak pernah menolakku. Meskipun berkali kucoba yakinkan dirinya bahwa aku tidak layak untuknya.
Berkali sudah kucoba meyakinkan dirinya bahwa aku tidak layak untuknya agar ia menolakku segera. Karena kalau penolakan datang dari pihakku... Damn! My father will "nyap-nyap"
I don't like this. I wasn't about to meet her on the first place anyway. But... I wish I can tell u more about my big boss. The point is. I'm asking anyone here a favour. Pls! Gimana caranya membatalkan pernikahan tanpa harus melukai perasaan dia. Apa yang harus kulakukan atau kukatakan tanpa menyinggung perasaannya.
Baru kali ini gue berharap being refused by someone special...