Masih Mungkinkah?

Mustahil, merajut benang-benang masa lalu yang mulai kusam, hingga tersulam secarik kain lembut berkilau...
Adalah hadirmu yang seperti jua hadirnya, serupa sanjunganku padanya kusanjung pula elokmu, de ja vu...
Aku sepertinya pernah memiliki rasa ini, pada karakter yg juga seperti ini...
Maka tergerai lah dari pintalan helai demi helai sejarah kasih satu waktu pernah dihempaskan ombak pada karang2 penyesalan demikian kerasnya, sejarah luka menyadari betapa pengorbanan masa lalu tak jua
cukup besarnya...
Dia tak pernah bisa kumiliki...
Aku tak merasa harus memintal kembali benang-benang itu, apa lagi merajutnya
Namun naluri seakan mendesakku tuk lakukan itu, naluri yang hadir semenjak ketidakberdayaanku demi mengenal sosok yang sepertimu
Dan aku sendirian, demi menghadapi kerinduan yg menyiksa, demi menghindari ribuan pinta hati tak sewajarnya ada padaku...
Demi ketidakberdayaanku tuk membiarkan dirimu memasuki salah satu bilik hati lama tak berpenghuni...
Dan aku tengah mengutuk diriku sendiri, meneriakkan sumpah serapah pada kelemahan hati, menjambak dan memukul-mukulkan kembali ingatan pada lembaran luka silam...
Dan aku membenci diriku sendiri...
Karena aku merasa telah jatuh cinta pada sebuah ketersia-siaan yg sama...
Aku sepertinya pernah memiliki rasa ini, pada karakter yg juga seperti ini...
Maka tergerai lah dari pintalan helai demi helai sejarah kasih satu waktu pernah dihempaskan ombak pada karang2 penyesalan demikian kerasnya, sejarah luka menyadari betapa pengorbanan masa lalu tak jua
cukup besarnya...
Dia tak pernah bisa kumiliki...
Aku tak merasa harus memintal kembali benang-benang itu, apa lagi merajutnya
Namun naluri seakan mendesakku tuk lakukan itu, naluri yang hadir semenjak ketidakberdayaanku demi mengenal sosok yang sepertimu
Dan aku sendirian, demi menghadapi kerinduan yg menyiksa, demi menghindari ribuan pinta hati tak sewajarnya ada padaku...
Demi ketidakberdayaanku tuk membiarkan dirimu memasuki salah satu bilik hati lama tak berpenghuni...
Dan aku tengah mengutuk diriku sendiri, meneriakkan sumpah serapah pada kelemahan hati, menjambak dan memukul-mukulkan kembali ingatan pada lembaran luka silam...
Dan aku membenci diriku sendiri...
Karena aku merasa telah jatuh cinta pada sebuah ketersia-siaan yg sama...




