TAK BERARTI ROMAN HARUS TAK BERARTI
Pernah berkali untukmu
Setidaknya untuk seseorang sepertimu
Soneta kurangkai
Sajak kulantun
Puisi kumaknai
Tak luput, satu novel roman kampungan pun kususun
Belum lagi musik dan lagu yang kucipta meski tak seberapa merdu nada
Boleh kukata, kau lah gadis dongeng tipikal
Dengan pola yang sama, happy ending di setiap kisah
Meski, kenyataannya, happy ending itu hanya untuk kamu dan pangeranmu
Bukan untukku, maupun kusamnya lantai tengah kupijak
Sebab lantai kamarku tak
Kecupanku pun tak
Aku hanyalah sebutir apel beracun di keranjang bawaan ratu yang jahat
Tokoh antagonis tanpa sengaja
Paling hebat, cuma seekor tikus yang berubah menjadi kuda pengantar putri ke pesta
Protagonis kecil yang lewat selintas saja
Tentang pualam terpahat
Tentang bunga mewangi
Tentang burung bernyanyi
Tapi seribu syair pujangga yang kau wakili dengan keanggunanmu terhenti di satu titik…
Hanya kata-kata
Dan tak kuyakini kau
Yang jelas, saat ini
Satu lagi bercak tinta hasil temari jemari
Oh ya, temari jemari
Aku sangat suka dua kata itu
Membayangkan jari-jemariku berdansa tap di atas papan ketik
Untuk kamu
Kali ini hanya untuk kamu
Meski tak kuyakini kau
Bahkan sekedar bertanya kenapa
Depok –
Kamar ke Kantor, Maret – April 2007 (atau jauh bulan sebelumnya)
Who am I anyway… Just don’t pay me too much attention
For I’m just me


0 Komentar:
Post a Comment
<< Home