D_uNsPoKeN

Monday, October 15, 2007

TAK BERARTI ROMAN HARUS TAK BERARTI

Pernah berkali untukmu

Setidaknya untuk seseorang sepertimu

Soneta kurangkai

Sajak kulantun

Puisi kumaknai

Tak luput, satu novel roman kampungan pun kususun

Belum lagi musik dan lagu yang kucipta meski tak seberapa merdu nada

Boleh kukata, kau lah gadis dongeng tipikal

Dengan pola yang sama, happy ending di setiap kisah

Meski, kenyataannya, happy ending itu hanya untuk kamu dan pangeranmu

Bukan untukku, maupun kusamnya lantai tengah kupijak

Sebab lantai kamarku tak kan pernah jadi aula dansa

Kecupanku pun tak kan pernah pantas tuk bangunkan kamu dari lelap tidurmu

Aku hanyalah sebutir apel beracun di keranjang bawaan ratu yang jahat

Tokoh antagonis tanpa sengaja

Paling hebat, cuma seekor tikus yang berubah menjadi kuda pengantar putri ke pesta

Protagonis kecil yang lewat selintas saja

Tentang pualam terpahat

Tentang bunga mewangi

Tentang burung bernyanyi

Tapi seribu syair pujangga yang kau wakili dengan keanggunanmu terhenti di satu titik…

Hanya kata-kata

Dan tak kuyakini kau kan bertanya, bahkan sekedar bertanya mengapa

Yang jelas, saat ini

Satu lagi bercak tinta hasil temari jemari

Oh ya, temari jemari

Aku sangat suka dua kata itu

Membayangkan jari-jemariku berdansa tap di atas papan ketik

Untuk kamu

Kali ini hanya untuk kamu

Meski tak kuyakini kau kan bertanya

Bahkan sekedar bertanya kenapa

Depok – Jakarta, Mampir Stasiun UI – Sawah Besar (Kadang Juanda, juga Beos),

Kamar ke Kantor, Maret – April 2007 (atau jauh bulan sebelumnya)

Who am I anyway… Just don’t pay me too much attention

For I’m just me

0 Komentar:

Post a Comment

<< Home