D_uNsPoKeN

Saturday, March 15, 2008

THIS IS IT

Done... But please make me sure of it. Please, tell me more about the meaning of Purity (of Faith). Because, once, she (the one I marry) asked me about it.
As so I answered as what my father has told me. ""Ikhlas" is written in Al-Qur'an Sūra 94: Inshirāḥ, or the Expansion (5-8)".
As I had taken the option (for several times) from the one I most admire and doubt all at once.
But still, I'm far, far away from being descent for such noble word to describe who I am now.
Am not I? or I just have been making fool out of my self by doing this.
What has done is done. Accepting the good is all that matters. As I had chosen the choice. Although heart is, still, a little bit unhappy.
Tell me, how can I love someone without experiencing the desire? Untill today, as I'm typing these words now. I don't feel the longing for her exsistence, at all.
And now.
If this is for the act of devotion, may Allah let the feeling sprouted up from my deepest heart. So I can carry on with my life uniritated. Amien.

Saturday, December 15, 2007

Timpang, seok menggerus bumi
Alur celung satu garis yang meliuk-liuk mendampingi jejak satu tapak di sisinya
Tapi ketimpangan itu belum juga terhenti, meski sejenak

Waktu dan Cita

Waktu terus saja berjalan
Cita masih saja mengikuti-mengejar

Satu saja di antara keduanya berhenti
Maka akan terhenti kedua-duanya
Sebab itu mati

Waktu berjalan cepat dan terus berjalan
Menyeret Cita barangkali lelah berkali gagal

Satu raga manusia bertopang pada kedua langkahnya
Cita yang memberikan titik tujuan
Waktu yang menentukan arah jalan

Maaf bila Cita pernah lalai dan melewatkan kesempatan
Maaf bila Waktu mungkin tergesa hingga kadang lepas pandang lupa mengingatkan

Satu raga manusia yang memiliki hati
Pernah merasa terbengkalai dan dikecewakan
Satu raga manusia yang memiliki fikir
Belum lagi mampu menjadikan topangannya selaras menegakkan

Satu raga manusia belum lagi mati…

Kantor, dan awal bangkrutnya sebuah perusahaan

Jakarta Barat 11140, 14 Desember 2007 menjelang shalat Jum’at.

Carik dan tinta merah
Menjamah lembaran² baru kehidupanku
Kusam bukan berarti aku tak pernah membukanya
Ada yang menahanku tuk memulai catatan ini
Terdiam cukup lama hingga debu selimut angin sampir lekat

Carik dan tinta merah
Seseorang atau sesuatu menggoreskannya untukku
Di atas lembaran² baru kehidupanku
Seseorang atau sesuatu yang merasa berhak atas diriku
Lalu merasa punya hak juga menentukan jalan hidupku

INI BUKAN AKU!!!
Apakah ini semestinya aku?
Aku marah, ronta tapi tak juga menyobek lembaran² ternoda
Aku sedikit menikmati, juga sedikit berharap ada kebaikan berarti di situ
Aku pasrah…

Tapi hati ini tak puas lalu saja
Aku geram

Ada yang menahanku tuk memulai catatanku sendiri.

Life Goes On, for Time Won’t Wait
Jakarta, 11 Desember 2007

Aku tengah berpetualang di Negeri Kemunafikan

Mengingkari tapi tak kuasa menghindari

(Bukan tentang ini saja, melainkan tentang banyak hal dalam kehidupanku)

Ya Allah, adakah aku tengah mengikuti jalan-Mu?

Atau aku hanya mencari jalan selamat dari adzab dunia seharusnya untukku?

(Dan berharap adzab akhirat sebagai penebusnya?)

Nalarku, apakah ia sanggup menemukan jalan terbaik tanpa tuntunan-Mu?

(Jelas tak mungkin)

Hatiku, sanggupkah ia penuh menerima meski tak sepenuhnya mencinta?

(Aku ragu)

Bahtera belum lagi hendak kupersiapkan

Kini tiba tiang, papan, layar dan tambang di depan mata.

Harus kurakit, atau (mungkin) aku akan kehilangan kesempatan berlayar ke negri sebrang

Tapi bukan bersama dirinya kehendak hati mengarungi samudra luas

Meskipun saat ini hanya darinya kesempatan itu ada

Ya Allah, Engkau Maha Tahu mana yang terbaik

Akankah aku membawanya tenggelam bersamaku?

Ataukah ia yang akan menyelamatkanku dari badai lautan nanti kiranya?

(Sekoci itu milik siapa?)

Andai sanggup kubuka pintu hati lebar-lebar

Menutup mata sekaligus enyahkan mimpi tentang seseorang yang belum lagi atau bahkan mungkin tak kan pernah kutemui

(Seseorang yang sanggup menggetarkan hati demi merasakan kehadirannya saja)

(Dan kepada dirinya)

Bukan aku tak mau mengungkap siapa dan bagaimana aku

Hanya memang hasrat tak cukup peduli apakah ia mau menerima atau tidak atas keadaanku yang sebenarnya

(Aku masih saja enggan berbagi)

Jikalau pun aku terungkap

Aku takut hal itu akan menjadi cacat jua bagi kedua orangtuaku di matanya

Belum lagi hukuman atas dosa-dosaku yang kutakuti akan menjadi beban mereka dalam menjalani sisa usia


Ya Allah, aku tengah tenggelam meski belum lagi menyentuh lautan

Tenggelam dalam keegoisan, ketakutan sekaligus kesombonganku sendiri…

Atau aku sesungguhnya hanya membutuhkan pengakuan bahwa aku bisa lebih baik dari mereka-mereka yang selama ini jadi kebanggaan?

Sebab setulus dan sebaik apapun yang pernah kupersembahkan

Tak cukup jua pengakuan itu kudapatkan

(Yang kudapati justru kenyataan bahwasannya)

Aku gagal

Aku celaka

Aku rusak

Adzab ! Aku tercela

Penyesalan dan kekecewaan menyeretku ke lembah terdalam

Membelenggu sepasang kaki dan kedua tanganku dari meraih jannah-Mu, ya Allah

Sesungguhnya masih kucari

Lebih lagi masih kuimpikan

Tentang aku; buah cita; cinta; dan citra selama ini kuidamkan dan kuperjuangkan

Atau aku tak cukup berusaha

Aku tak cukup berkorban

Penyesalan dan kekecewaan melemahkan sendi-sendi dan syarafku

Hingga warna harap pupus, bias dengan warna keraguan

Aku bangkit, tapi tak sanggup berlari cepat mengejar keinginanku

Aku… Dibatasi… Ketiadaanku

Jakarta. 10 Desember 2007

Menjelang pernikahan tak pasti kuingini

Saturday, December 01, 2007

Sirahku mumed, Rek


Look, I'm going to make it quite short and simple. I'm going to get married with someone I'm not sure I want to live with. I met this girl on purpose one day. My father arranged the date. He want me to get married a.s.a.p. Funny thing is, I found nothing in her for me to say "no". As so I hope she would've found (I'm sure she did) something in me for her to reject my being.
Tapi tidak. Dia tidak pernah menolakku. Meskipun berkali kucoba yakinkan dirinya bahwa aku tidak layak untuknya.
Berkali sudah kucoba meyakinkan dirinya bahwa aku tidak layak untuknya agar ia menolakku segera. Karena kalau penolakan datang dari pihakku... Damn! My father will "nyap-nyap"
I don't like this. I wasn't about to meet her on the first place anyway. But... I wish I can tell u more about my big boss. The point is. I'm asking anyone here a favour. Pls! Gimana caranya membatalkan pernikahan tanpa harus melukai perasaan dia. Apa yang harus kulakukan atau kukatakan tanpa menyinggung perasaannya.
Baru kali ini gue berharap being refused by someone special...

Saturday, November 03, 2007

WHAT?


Tentang gue?... Ga, ah!

Bosen klo cuma ngomongin tentang gue.

Cuma saat ini gw lagi di w net, nginget² kenangan lama gw waktu masih gawe di w net 2-3 tahun yg lalu ngisi masa² jobless gw. Low payment of course. Tapi dari segi keilmuan dan fun? Jelas gw saat itu bener² bisa berkembang n enjoy w/ my life. Ngenet gratis tentu :D surfing sampe discovering many things dari yg legal sampai yg ilegal, dari yg useful sampe yg cuma waisting my time (meski lebih sering kelaperan :D )...

Sekarang... Thx God payroll yg gw terima dari kerjaan gw dari sebuah perusahaan dagang menengah lumayan bisa nutupin kebutuhan makan dan extra nongkrong gw. Tapi... miskin ilmu :(

Gw kehilangan teman² sekaligus mentor gw di dunia iptek (since ngenet butuh extra cost karena kantor gw masih dimanage sama orang yg ga peduli sama dunia wewewe :p~), dan ga bisa ngikutin perkembangan dunia secara online (berkesinambungan).

Well... This is my life, guys.

Dan hidup ga bisa selamanya sesuai sama apa yg elo mau.

Saat ini gw cuma berharap, bahkan bersedia barter dengan (loosing 10% of my regular income) everyday free internet. Tapi ga mungkin kaleeeeeeeee....

10% of my monthly income is way too far to fulfill such need :((

Pindah kerja??? Gosh! Would that be possible? Gw kan bukan lulusan diploma, cuma tamatan SMK yang hampir 75% ilmunya didapat dgn cara otodidak.

Ga nyombong nih. Meski ga pernah kuliah, tapi udah pernah ngerjain skripsi 5 kali dgn mata kuliah yg berbeda². Maklum dulu waktu jaga w net gw nyambi terima ketikan buat makan siang di Nasi Kapau atawa di Resto Jepun :">

Tapi gw kan jelas² ga pernah nyampe wakilin sidang mereka, jadi ga pernah ngapalin tuh :"> Syukur² kalo ada yg nyangkut atu-dua di otak :D

Any comment? Atau ada yg mo nawarin kerjaan? Gw qualified for all kind of jobs in this world, kalaupun gw belum pernah kenal sama jenis kerjaan tersebut. Gw cuma butuh sedikit waktu buat belajar, faham, n get into it ;->

My diploma (one I don't have) is all that matters all this long :(

Well, Guys!

Sekian dulu uneg² gw saat ini, C U again kapan²

Monday, October 15, 2007

YANG TERBUJUR BUKAN CUMA MAYAT

Sebab kerinduan ini masih berdenyut

Meski aroma sepi menindih udara yang kuhirup

Mungkin tak sanggup beranjak ia dari diamnya di sini

Tapi pandang tak lagi bahkan sekedar berkedip demi menatapi satu kepergian

RAMPAI HATI DI JAMBANGAN RETAK

Letakkanlah kepalaku di pangkuanmu

Demi jemari indahmu menyisiri setiap helai rambutku

Dan tersenyumlah, kala tatapanku yang tengah menerawang membentur indah bola matamu

Maka akan kubiarkan kerlip cahaya di matamu menuntunku lebih jauh lagi

Maaf bila, dan memang tak sepantasnya aku menangis di pangkuanmu

Sebagai lelaki…

Ketika cinta tak bertepi kanvasnya, tak jua usai kita melukis angan terindah

Sungguh bukan letihku

Karena aku tak kan pernah letih mencintaimu

Terlalu banyak pilihan, memaksa dan atau tidak, memutuskannya begitu sukar bagiku

Bahkan sekalipun aku memilihmu…

Tak jua kudengar suaramu memberikan jawaban yang ku mau

Masih tersimpankah ingatan itu?

Telisik hari kita lalui bersama

Indah bukan?

Tawa dan betapa cumbu rayu begitu menghanyutkan

Peluh sebab ruang penuh tubuh berdesakan, atau sebab kita berdua saja yang sengaja saling mendesakkan…

Bagaimana juga dengan amarah dan berkali airmata yang nyaris tertumpah?

Empati yang kau beri dari cerita suka-duka menyelingi cengkrama

Empati karena ternyata kita tak begitu jauh berbeda

Empati sehingga aku jatuh cinta

Sayang, aku harus pergi

Bukan inginku, sungguh tak pernah aku menginginkan itu

Tapi cinta yang kita punya tak bertepi kanvasnya.

Kantor semrawut, 17 April 2007 14:59

Teruntuk kekasih hati terpaut

Adakah kau kan memintaku tuk tetap di sini?


TAK BERARTI ROMAN HARUS TAK BERARTI

Pernah berkali untukmu

Setidaknya untuk seseorang sepertimu

Soneta kurangkai

Sajak kulantun

Puisi kumaknai

Tak luput, satu novel roman kampungan pun kususun

Belum lagi musik dan lagu yang kucipta meski tak seberapa merdu nada

Boleh kukata, kau lah gadis dongeng tipikal

Dengan pola yang sama, happy ending di setiap kisah

Meski, kenyataannya, happy ending itu hanya untuk kamu dan pangeranmu

Bukan untukku, maupun kusamnya lantai tengah kupijak

Sebab lantai kamarku tak kan pernah jadi aula dansa

Kecupanku pun tak kan pernah pantas tuk bangunkan kamu dari lelap tidurmu

Aku hanyalah sebutir apel beracun di keranjang bawaan ratu yang jahat

Tokoh antagonis tanpa sengaja

Paling hebat, cuma seekor tikus yang berubah menjadi kuda pengantar putri ke pesta

Protagonis kecil yang lewat selintas saja

Tentang pualam terpahat

Tentang bunga mewangi

Tentang burung bernyanyi

Tapi seribu syair pujangga yang kau wakili dengan keanggunanmu terhenti di satu titik…

Hanya kata-kata

Dan tak kuyakini kau kan bertanya, bahkan sekedar bertanya mengapa

Yang jelas, saat ini

Satu lagi bercak tinta hasil temari jemari

Oh ya, temari jemari

Aku sangat suka dua kata itu

Membayangkan jari-jemariku berdansa tap di atas papan ketik

Untuk kamu

Kali ini hanya untuk kamu

Meski tak kuyakini kau kan bertanya

Bahkan sekedar bertanya kenapa

Depok – Jakarta, Mampir Stasiun UI – Sawah Besar (Kadang Juanda, juga Beos),

Kamar ke Kantor, Maret – April 2007 (atau jauh bulan sebelumnya)

Who am I anyway… Just don’t pay me too much attention

For I’m just me

...

DI PELATARAN RUKO, SEMINGGU INI

Kucing belang muda belia rangkak di tepi mati…

Induknya telah lama pergi

Tanpa susuan, tanpa hangat tubuh saat malam datang buat ia meringkuk menahan dingin

Laparnya menggerus waktu di atas pijakan yang mulai pincang tertatih

Bukan inginnya langkah kaki terseok tak dapat lurus searah

Lalu tersesat…

Kucing belang muda belia kusam di tepi pagi…

Lidahnya tak cukup basah, bahkan tuk sekedar menjilati cakarnya sendiri

Awan nampak menggantung sejak semalam, tapi hujan tak jua turun

Hausnya mengeringkan pinta dari suara yang mulai serak menghilang

Bukan inginnya mengucap caci maki ketimbang puja dan puji

Lalu teriak!!!...

Setelah itu diam tersekat langit-langit mulutnya yang pecah

Bahkan yang tadi pun tak terdengar…

Kucing belang muda belia itu pun akhirnya mati…

Setelah tak mampu lagi lari dan sembunyi

Dan luka-luka yang tak pernah sempat terobati

Juni 2006

Untuk Proletar² Kecil yang setia menyisir hari