Aku, pa adanya aku
Jiwaku rentan terluka, tapi aku masih saja mampu tertawa
Kau boleh kata aku pendusta besar, sesungguhnya bukan itu mauku
Hanya aku, dan ketidak inginanku tuk terus tenggelam dalam duka panjang tak henti
Jika kau kenali aku, dan tak kan pernah dapat kau kenali aku lebih dalam lagi, kau kan anggap aku manusia paling bahagia, meski bisa jadi juga kau kan anggap aku manusia paling gila
Tawa, cinta, luka... dan beberapa tetes air mata... ahh
Tak lepas dari jiwa seperti tak lepas biru yang pekat dari langit malam, atau dari dasar samudra
Aku letih, tapi tidak pada bahuku yang telah kurelakan tuk kau sandari
Aku sedih, tapi tidak pada raut wajahku yang telah kucerahkan tuk kau pandangi
Aku muak, tapi tidak pada liuk lidah yang telah kusuarakan tuk kau tanyai
Ikhlasku semoga berbuah bahagiamu... sebab senyum yang paling mudah bagiku adalah tatkala melihat engkau tersenyum...
Kau boleh kata aku pendusta besar, sesungguhnya bukan itu mauku
Hanya aku, dan ketidak inginanku tuk terus tenggelam dalam duka panjang tak henti
Jika kau kenali aku, dan tak kan pernah dapat kau kenali aku lebih dalam lagi, kau kan anggap aku manusia paling bahagia, meski bisa jadi juga kau kan anggap aku manusia paling gila
Tawa, cinta, luka... dan beberapa tetes air mata... ahh
Tak lepas dari jiwa seperti tak lepas biru yang pekat dari langit malam, atau dari dasar samudra
Aku letih, tapi tidak pada bahuku yang telah kurelakan tuk kau sandari
Aku sedih, tapi tidak pada raut wajahku yang telah kucerahkan tuk kau pandangi
Aku muak, tapi tidak pada liuk lidah yang telah kusuarakan tuk kau tanyai
Ikhlasku semoga berbuah bahagiamu... sebab senyum yang paling mudah bagiku adalah tatkala melihat engkau tersenyum...

0 Komentar:
Post a Comment
<< Home